Tuesday, February 9, 2010

Meraih Pahala Ketika Hujan


Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur segala urusan manusia , di antara hal yang diatur oleh Islam adalah bagaimana sikap seorang muslim dalam menghadapi hujan. Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam telah mencontohkan kepada umatnya bagaiman sikap dan cara menghadapi hujan. Sesungguhnya termasuk hal yang disyariatkan ketika turun hujan, adalah mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan di antara petunjuk beliau adalah sebagai berikut:

1.Menyengaja diri kita agar terkena hujan, dan membuka sebagian pakaian kita agar terkena sebagian dari air hujan. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:


عن أنس رضي الله عنه قال: ( أصابنا ونحن مع رسول الله صلى الله عليه وسلم مطر، قال: فحسر رسول الله صلى الله عليه وسلم ثوبه حتى أصابه من المطر. فقلنا: يا رسول الله لم صنعت هذا؟ قال: لأنه حديث عهد بربه تعالى) رواه مسلم

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:”Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tertimpa hujan, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membuka pakaian beliau sampai (tubuh beliau) terkena sebagian air hujan.”Maka kami berkata:”Ya Rasulullah, kenapa anda melakukan hal itu?” Beliau menjawab:”Karena sesungguhnya dia (hujan) adalah baru dari Rabbnya Subhanahu wa Ta'ala .” (HR. Imam Muslim)

Maksud dari sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam لأنه حديث عهد بربه تعالىkarena sesungguhnya dia (hujan) adalah baru dari Rabbnya adalah bahwasanya hujan itu diciptakan oleh Allah ketika turun, itu berarti hujan itu adalah rahmat dari Allah karena dekatnya antara waktu penciptaannya dengan waktu turunnya. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengaharap berkah dari Allah dengan turunnya hujan itu. Hal itu sebagaimana penjelasan para ulama terhadap hadits tersebut di dalam syarah shahih Muslim. Wallahu A‘lam

2.Mengucapkan dzikir atau doa ketika turun hujan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika turun hujan beliau mengusapkan:


( مُطِرْنَا ِبفَضْلِ اللهِ وَرَحْمِتِهِ )

“Kami dikaruniai hujan karena kemurahan Allah dan rahmat-Nya”

Sebagaimana terdapat dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari sahabat Zaid bin Khalid radhiyallahu 'anhu

Dan juga beliau mengucapkan doa:


( اَللّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً)

“Ya Allah jadikanlah (hujan ini) hujan yang bermanfaat.”

Sebagaimana hadits shahih dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah.

3.Termasuk hal yang disyariatkan ketika turun hujan adalah memperbanyak doa, karena saat itu adalah waktu dikabulkannya doa. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dan dishahihkan oleh beliau.

4. Termasuk hal yang disyariatkan pula, apabila banyak turun hujan dan ditakutkan akan membawa bahaya, hendaknya mengucapkan:


( اللهم حوالينا ولا علينا اللهم على الآكام والظراب و بطون الأودية ومنابت الشجر ) رواه البخاري ومسلم .

“Ya Allah (turunkan hujannya) di sekitar kami, jangan di atas kami,(akan tetapi) Ya Allah (turunkan hujannya) di atas pebukitan, lembah dan tempat-tempat yang banyak pohonnya.”(HR.Bukhari dan Muslim)


Dan tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang bacaan doa yang diucapkan ketika terjadi kilat atau petir. Akan tetapi ada riwayat dari Ibnu Zubair bahwa beliau (Ibnu Zubair) apabila mendengar petir, beliau menghentikan pembicaraan lalu mengucapkan:


سبحان الذي يسبح الرعد بحمده والملائكة من خيفته " )رواه الإمام مالك بإسناد صحيح( .

“Maha Suci Allah, yang petir petir dan para Malaikat bertasbih dengan pujiaan-Nya, karena takut kepada_nya (Allah).”(Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwatha dengan sanad yang shahih)

Dan juga dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa beliau (Ibnu Umar) apabila mendengar petir beliau mengucapkan:


" اللهم لا تقتلنا بغضبك ولا تهلكنا بعذابك وعافنا بعد ذلك" )أخرجه الإمام أحمد والترمذي(

“Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami dengan kemurkaan-Mu, dan janganlah Engkau membinasakan kami dengan azab-Mu, dan ampunilah kami setelahnya.”(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi)
Beliau berdoa denag doa itu karena beliau mengetahui bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membinasakan beberapa kaum terdahulu dengan petir dan hujan

اللهم صل و سلم و بارك على نبينا محمد

Sumber: www.alsofwah.or.id

Thursday, January 28, 2010

stri Yang Membahagiakan

Kebahagiaan rumah tangga yang menjadi tujuan setiap keluarga terbentuk di atas beberapa faktor, yang terpenting adalah faktor anggota keluarga. Mereka inilah faktor dan aktor pencipta kebahagiaan dalam rumah tangga, atau sebaliknya, kesengsaraan rumah tangga juga bisa tercipta oleh mereka. Dari anggota rumah tangga, faktor yang paling berperan besar dalam perkara ini adalah istri, karena dia adalah ratu dan ikon utama sebuah rumah tangga, ia adalah rujukan suami dan tempat kembali anak-anak, maka dalam bahasa Arab dia disebut dengan ‘Um’ yang berarti induk tempat kembali.
Sebagai pemeran utama dalam panggung rumah tangga, karena perannya yang cukup signifikan di dalamnya, maka istri harus membekali diri dengan sifat-sifat dan kepribadian-kepribadian sehingga dengannya dia bisa mengemban tugas dan memerankan perannya sebaik mungkin, dengan itu maka kondisi yang membahagiakan dan situasi yang menentramkan di dalam rumah akan terwujud.

Mengetahui skala prioritas

Dunia memang luas dan lapang, namun tidak dengan kehidupan, yang akhir ini, selapang dan seluas apa pun tetap terbatas, ada tembok-tembok yang membatasi, ada rambu-rambu yang mengekang, namun pada saat yang sama tuntutan dan hajat kehidupan terus datang silih berganti seakan tidak akan pernah berhenti, kondisi ini mau tidak mau, berkonsekuensi kepada sikap memilah skala prioritas, mendahulukan yang lebih penting kemudian yang penting dan seterusnya.

Sebagai ikon dalam rumah tangga, istri tentu mengetahui benar keterbatasan rumah tangga di berbagai sisi kehidupan, keterbatasan finansial dan ekonomi misalnya, sebesar apapun penghasilan suami plus penghasilan istri (jika istri bekerja), tetap ada atap yang membatasi, ada ruang yang menyekat, tetap ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh uang hasil usaha mereka berdua, ditambah dengan jiwa manusia yang tidak pernah berhenti berkeinginan, keadaannya selalu berkata, “Adakah tambahan?”, maka sebagai istri yang membahagiakan, dia harus mengetahui dengan baik prinsip dasar ini, mendahulukan perkara yang tingkat urgensinya tertingi kemudian setelahnya dan seterusnya.

Keterbatasan dalam hubungan di antara suami dan istri, mungkin karena latar belakang keduanya yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, keluarga yang berbeda, tabiat dan watak yang berbeda, hobi dan kesenangan yang berbeda, waktu yang tersedia untuk berdua minim, semua itu membuat hubungan suami istri serba terbatas, namun hal ini bukan penghalang yang berarti, selama istri memahami kaidah prioritas ini.

Istri yang baik adalah wanita yang mengetahui tatanan prioritas dengan baik, dalam tataran hubungan suami istri, secara emosinal dan fisik, dalam tatanan rumah tangga, secara formalitas dan etika, ia menempati deretan nomor wahid.


Realistis dalam menuntut

Di hari-hari pertama pernikahan, biasanya dalam benak orang yang menjalani tersusun rencana-rencana yang hendak diwujudkan, tertata target-target yang hendak direalisasikan, terlintas harapan-harapan yang hendak dibuktikan. Umum, lumrah dan jamak. Kata orang, hidup ini memang berharap, karena berharap kita bisa tetap eksis hidup dengan berbagai macam siatuasi dan kondisinya. Demikian pula dengan sebuah rumah tangga. Tahun pertama harus memiliki anu. Tahun kedua harus ada ini. Tahun ketiga, keempat dan seterusnya.

Sekali lagi wajar, selama hal itu masih realistis. Dan soal harapan dan ambisi biasanya istri selalu yang menjadi motornya. Dalam sebuah ungkapan dikatakan, “Wanita menginginkan suami, namun jika dia telah mendapatkannya, maka dia menginginkan segalanya.” Memang tidak semua wanita, karena ini hanya sebuah ungkapan dan tidak ada ungkapan yang general. Namun dalam batas-batas tertentu ada sisi kebenarannya, karena tidak jarang kita melihat beberapa orang suami yang banting tulang dan peras keringat demi kejar setoran yang telah dipatok istrinya.

Maka alangkah bijaknya jika dalam menuntut dan mencanangkan target memperhatikan realita dan kapasitas suami, jika sebuah harapan sudah kadung digantung tinggi, lalu ia tidak terwujud, maka kecewanya akan berat, bak orang jatuh dari tempat yang sangat tinggi, tentu sakitnya lebih bukan?

Sebagian istri memaksa suami menelusuri jalan-jalan yang berduri dan berkelok-kelok, di mana dia tidak menguasainya, jika suami mengangkat tangan tanda tak mampu mewujudkan sebagian dari tuntutannya, maka istri berteriak mengeluh. Hal ini, sesuai dengan tabiat kehidupan rumah tangga, menyeret kehidupan rumah tangga kepada jalan buntu selanjutnya yang muncul adalah perselisihan, jika ia menyentuh dasar kehidupan, maka bisa berakibat keruntuhannya.

Seorang istri shalihah selalu mendahulukan akalnya, dia tidak membuat lelah suaminya dengan tuntutan-tuntutan yang irasional, tidak membebaninya di luar kemampuannya dan tidak memberatkan pundaknya dengan permintaan-permintaan demi memenuhi keinginan-keinginannya semata.

Salah satu contoh yang jarang ditemukan yang terjadi dalam sejarah tentang keteladanan sebagian istri yang begitu memperhatikan keadaan suami tanpa batas walaupun hal tersebut berarti mengorbankan kemaslahatannya sendiri adalah apa yang diriwayatkan oleh kitab-kitab ath-Thabaqat tentang Fatimah az-Zahra` pada saat dia dan suaminya Ali bin Abu Thalib mengalami kesulitan hidup yang membuatnya bermalam selama tiga malam dalam keadaan lapar, pada saat Ali melihatnya pucat, dia bertanya, “Ada apa denganmu wahai Fatimah?” Dia menjawab, “Telah tiga malam ini kami tidak memiliki apa pun di rumah.” Ali berkata, “Mengapa kamu diam saja?” Fatimah menjawab, “Pada malam pernikahan bapakku berkata kepadaku, ‘Hai Fatimah, kalau Ali pulang membawa sesuatu maka makanlah, kalau tidak maka jangan memintanya.”


Bermental kaya

Mental kaya, dalam agama dikenal dengan istilah qana’ah, rela dengan apa yang Allah Subhanahu waTa’ala bagi sehingga tidak menengok dan berharap apa yang ada di tangan orang lain.

Kaya bukan kaya dengan harta benda, namun kaya adalah kaya hati, artinya hati merasa cukup. Sebanyak apa pun harta seseorang, kalau belum merasa cukup, maka dia adalah fakir. Kata fakir dalam bahasa Arab berarti memerlukan, jadi kalau seseorang masih memerlukan [baca: berharap dan menggantungkan diri] kepada apa yang dimiliki oleh orang lain tanpa berusaha, maka dia adalah fakir alias miskin.

Kebahagiaan rumah tangga bergantung kepada perasan istri dalam skala lebih besar daripada yang lain, jika istri tidak bermental kaya, maka dia akan selalu merasa kekurangan, akibatnya dia akan mengeluh ke mana-mana dengan kekurangannya. Kurang ini, kurang itu, kurang anu dan seterusnya. Mentalnya adalah mental sengsara, mental miskin, minim syukur, memposisikan diri sebagai orang miskin sehingga seolah-olah dirinya patut diberi zakat.

Padahal seorang wanita bisa saja memiliki segala keutamaan di kolong langit ini, akan tetapi semua keutamaan ini tidak ada nilai dan harganya jika yang bersangkutan mempunyai tabiat sengsara dan mental miskin. Kedua tabiat ini bagi wanita menyebabkan kesengsaraan bagi suami dan kenestapaan bagi rumah tangga.

Banyak wanita sejak zaman batu sampai hari ini merasa nyaman dengan tabiat sengsara dan mental miskin ini. Dalam kehidupan sejarah, Nabiyullah Ibrahim ’alaihissalam pernah menemukan dua orang wanita, yang pertama bermental miskin dan yang kedua bermental kaya, keduanya pernah menjadi istri bagi anaknya, Ismail. Dengan bahasa sindiran, Nabi Ibrahim ’alaihissalam pernah meminta Ismail untuk berpisah dari istri pertamanya. Ibrahim ’alaihissalam melihat istri pertama anaknya bukan istri yang layak, karena dia bermental miskin. Ketika Ibrahim ’alaihissalam bertanya kepadanya tentang kehidupannya dengan suaminya, yang Ibrahim ’alaihissalam dengar dari mulutnya hanyalah keluh kesah. Sebaliknya istri kedua, jawabannya kepada mertuanya mengisyaratkan bahwa dia adalah istri yang pandai bersyukur dan bersikap qana’ah, maka Ibrahim ’alaihissalam meminta Ismail untuk mempertahankannya.

Dalam kehidupan ini tidak sedikit kita menemukan istri model seperti ini. Ditinjau secara sepintas dari keadaan rumahnya, rumah milik sendiri, lengkap dengan perabotan elektronik yang modern, didukung kendaraan keluaran terbaru, tapi dasar mentalnya mental miskin, maka yang bersangakutan tetap mengeluh seolah-olah dia adalah orang termiskin di dunia. Apakah hal ini merupakan kebenaran dari firman Allah Subhanahu waTa’ala, yang artinya, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. al-Ma’arij: 19). Tanpa ragu, memang.

Jika istri bermental kaya, maka keluarga akan merasa kaya dan cukup. Ini menciptakan kebahagiaan. Jika istri bermental melarat, maka yang tercipta di dalam rumah adalah iklim melarat dan ini menyengsarakan. (Oleh: Ust. Izzudin Karimi, Lc, sumber www.alsofwah.or.id)

Tiga Hak Anak Atas Bapaknya


Seorang bapak datang kepada Umar bin Khathab. Dia mengeluhkan anaknya yg durhaka. Umar pun memanggil si anak dan menasehatinya.

Si anak berkata, "Wahai Amirul Mukminin, bukankah seorang anak juga punya hak atas bapaknya?"
Umar, "Ya, benar."
Si anak, "Apa itu, wahai Amirul Mukminin?"
Umar, "(1) Memilihkan ibu yg baik, (2) memberikan nama yg bagus, dan (3) memberikan pendidikan yg baik."
Si anak pun berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tak melakukan itu semua. Ibuku seorang majusiyah, ia menamaiku Ju'al (lelaki hitam dan jelek), dan ia sama sekali tak pernah mengajariku meski hanya satu huruf."

Maka, Umar pun berkata kepada si bapak, "Kamu ini datang mengadukan kedurhakaan anakmu. Tapi sebetulnya kamu telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Kamu juga telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berlaku buruk kepadamu."

Ali bin Naif Asy-Syahud, Mausu'ah Ad-Din An-Nashihah, jld III, hlm 80 disalin dari laman FB Abduh Zulfidar Akaha)

Saturday, January 23, 2010


Dikisahkan, seorang kakek berusia 70 tahun mengidap sebuah penyakit; dia tidak dapat kencing.Dokter mengabarkan kepadanya kalau dia membutuhkan operasi untuk menyebuhkan penyakitnya. Dia setuju untuk melakukan operasi karena penyakit itu telah menimbulkan sakit yang luar biasa selama berhari-hari. Ketika operasi selesai, dokter memberikan tagihan pembayaran seluruh biaya operasi. Kakek tua itu melihat pada kuitansi dan mulai menangis. Melihatnya menangis dokter pun berkata kepadanya bila biayanya terlalu tinggi mereka dapat membuat pengaturan lain.

Orang tua itu berkata, ”Aku tidak menangis karena uang itu, tetapi aku menangis karena Allah menjadikanku buang air (tanpa masalah) selama 70 tahun dan Dia tidak pernah mengirimkan tagihan. ”Dan jika kamu menghitung ni'mat Allah,
tidaklah dapat kamu menghinggakannya.”(QS Ibrahim [14] : 34)
Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menjelaskan mengenai ayat tersebut di atas:
Allah memberitahukan, bahwa manusia tidak akan mampu menghitung berapa banyak nikmat Al lah, apalagi mensyukurinya. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ”Ya Allah bagimu segala puji, pujian yang
tidak mencukupi tidak mungkin ditinggal-kan dan selalu dibutuhkan, wahai Rabb kami.”
Dan diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa Nabi Dawud alaihis salam berkata: “Ya Rabb, bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan syukurku kepadamu itu adalah nikmat-Mu kepadaku?” Maka Allah berfirman: ”Sekarang engkau telah bersyukur
kepadaku wahai Dawud.” Maksudnya (engkau telah bersyukur) ketika engkau telah mengetahui bahwa engkau tidak dapat memenuhi syukur yang sepatutnya kepada Pemberi nikmat.

Sungguh, jika kita menghitung nikmat-nikmat Allah pada diri, maka takkan sanggup kita menghitungnya. Dan yang seringkali terjadi, kita melupakan nikmat-nikmat itu, dan baru terasa begitu berharga ketika kita kehilangan nikmat tersebut. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: ”Segala puji bagi Allah yang tidak dapat dipenuhi syukur atas salah satu nikmat yang telah diberikan-Nya itu, kecuali dengan nikmat baru yang harus diyukuri pula.” (tafsir Ibnu Katsir QS Ibrahim : 34)

Telah berpulang ke Rahmatullah imam Masjid Al-Muhajirin Sektor Kancil/Ustazd/abah/sahabat kami Ahmad Zubair, pada hari sabtu pukul 01.30 tanggal 30 Muharram 1431 H/16 Januari 2010. Mohon dimaafkan atas segala salah dan khilaf beliau semasa hidupnya, Dan semoga Allah Mengampuni dosa-dosanya dan menerima semua amal perbuatan baiknya serta menempatkan beliau di sorga-Nya.... Amin ya Robbil alamin.

Wednesday, October 28, 2009

Menutupi Aib Sendiri & Orang Lain (Mahmud Muhammad al-Khazandar)

Masyarakat yang bersih, yang tidak dipenuhi berbagai berita adalah masyarakat yang selamat serta terjaga, dan yang melakukan maksiat tetap tertutup dengan tutupan Allah SWT atasnya hingga ia bertaubat dan ditutup oleh orang-orang yang beriman, agar ia tidak berani melakukannya secara terang-terangan atau terus-menerus tanpa berhenti.

Rasulullah SAW mencela ucapan pelaku maksiat yang mencemari dirinya sendiri dan membuka tutupan Allah SWT terhadapnya, beliau bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًا إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ, وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ باِللَّيْلِ عَمَلاً, ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُوْلُ: يَافُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ سَتَرَهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
"Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di pagi harinya -padahal Allah SWT telah menutupnya-, ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah SWT telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah SWT terhadapnya." [1]

Rasulullah SAW juga mencela seseorang yang mempermalukan saudaranya, karena itulah Allah SWT menyifati orang-orang yang mencemarkan kehormatan kaum muslimin dengan lisan mereka, sebagaimana firman Allah SWT:

إَنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ ءَامَنُوا
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, (an-Nuur:19)

Dan senantiasa ancaman keras menanti mereka:
لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ
bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nuur:19)

Dan kebalikannya, berita gembira bagi orang-orang yang menutup aib saudara-saudara mereka, dengan tutupan Allah SWT kepada mereka di dunia dan akhirat, seperti yang tersebut dalam hadits shahih:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
"Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah I menutup aibnya di dunia dan akhirat." [2]

An-Nawawi rahimahullah mengatakan ketika memberikan komentar terhadap hadits di atas, adapun menutup aib orang lain yang dianjurkan di sini maksudnya adalah, menutup aib orang yang melakukan keburukan, dari orang yang tidak terkenal melakukan keburukan dan kerusakan. Adapun orang yang sudah dikenal seperti itu, maka dianjurkan agar tidak menutupnya, bahkan dilaporkan kepada pemerintah, jika ia tidak mengkhawatirkan terjadinya kerusakan yang lebih besar lagi, karena menutup hal seperti ini membuat dia bertambah berani melakukan kerusakan dan kekacauan, melakukan segala yang diharamkan dan membuat orang yang lain berani melakukan hal serupa. Adapun menyebutkan cacat atau aib para perawi hadits, para saksi, dan orang-orang yang diberi amanah terhadap sedekah, harta waqaf dan anak-anak yatim dan semisal mereka, maka wajib menyebutkan aib mereka saat diperlukan dan tidak boleh menyembunyikan hal itu, apabila ia melihat suatu perkara yang mengurangi kelayakan mereka. Hal ini tidak termasuk ghibah (mengumpat) yang diharamkan, bahkan termasuk nasehat yang wajib. [3]

Hal itu tidak berarti engkau harus berdiam diri di antara engkau dan dia, tanpa harus diketahui orang lain. Apabila engkau telah mengingkari dan memberikan nasehat kepadanya, lalu ia tidak berhenti melakukan perbuatan buruknya, kemudian ia terang-terangan melakukannya, niscaya boleh bersaksi atasnya dengan hal itu -seperti yang dijelaskan oleh an-Nawawi dan Ibnu Hajar- dan dibedakan di antara menutup aib dan mengingkari, yaitu bahwa menutup aib tempatnya adalah dalam perbuatan maksiat yang sudah berakhir, dan mengingkari pada maksiat yang sedang dilakukan, maka wajib mengingkarinya. Jika tidak demikian, ia melaporkannya kepada pemerintah. [4]

Dan menutup aib yang paling utama adalah menutup aib diri sendiri, yang Allah SWT telah menutupinya dan Allah SWT telah memuliakannya karena ia merasa bersalah karena berbuat maksiat dan merasa malu darinya, yaitu dengan memberi ampunan kepadanya, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits qudsi:

فَيَقُوْلُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ هَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ هذَا؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ. حَتىَّ إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوْبِهِ وَرَأَى فِى نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ:سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِى الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ, فَيُعْطَى كِتَابُ حَسَنَاتِهِ.
"Allah SWT berfirman (kepada hamba):'Apakah engkau mengetahui dosa ini? apakah engkau mengenal dosa ini?' Ia menjawab, 'Ya, wahai Rabb.' Sehingga apabila ia telah mengakui dosa-dosanya dan ia melihat pada dirinya bahwa ia akan binasa, Dia SWT berfirman, 'Aku telah menutupinya atasmu di dunia dan aku mengampuninya untukmu pada hari ini, maka diberikanlah catatan kebaikannya…" [5]

Maka hendaklah seseorang menutupi aib dirinya, sebagaimana Allah SWT telah menutupinya.

Termasuk di antara kemuliaan muslim terhadap Allah SWT, sesungguhnya Allah SWT akan membelanya dan membalas kepada orang yang berbuat jahat kepadanya. Dalam hal itu, Rasulullah SAW bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ: لاَ تَغْتَابُوْا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تَتَبَّعُوْا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يتبعِ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِى بَيْتِهِ.
"Wahai sekalian orang yang beriman dengan ucapan lisannya dan iman belum masuk ke dalam hatinya, 'Janganlah engkau mengumpat kaum muslimin dan janganlah mencari-cari kesalahan mereka. Maka sesungguhnya orang yang mencari-cari kesalahan mereka niscaya Allah SWT mencari-cari kesalahannya. Dan barangsiapa yang Allah SWT mencari-cari kesalahannya, niscaya Dia SWT mempermalukannya di rumahnya." [6]

Maka tutupilah aib saudara-saudaramu, karena engkau tidak pernah akan mampu memerangi Allah SWT, Yang Maha Kuasa membuka segala aibmu dan mengungkap segala dosamu, sementara manusia tidak ada yang mengetahuinya. Dan kekanglah lisanmu dari pembicaraan menyangkut kehormatan orang lain, mencari-cari kesalahan, dan merusak harga diri saudara-saudaramu.

Engkau mendapatkan jiwa yang sakit tenggelam mendengarkan aib orang lain dan mencari-cari kesalahan, serta dibuka majelis untuk mengungkap kesalahan orang lain. Padahal Rasulullah r memerintahkan memaafkan kesalahan, dan Allah SWT "Menyukai sifat malu dan menutup aib", [7] seolah-olah digabungkan di antara dua sifat yang terpuji ini (malu dan menutup aib) karena manusia yang menyebarkan aib saudara-saudaranya, ia tidak akan bisa melakukan hal itu kecuali setelah tidak adanya sifat malu yang menghalanginya melakukan hal itu, dan ia tidak menutupi kecuali karena sifat malu.

Sungguh di antara petunjuk Nabi SAW adalah lebih mengutamakan menutup aib, sampai-sampai pada orang yang melakukan dosa besar. Karena itulah diarahkan sabdanya:

تَعَافُّوْا الْحَدُوْدَ فِيْمَا بَيْنَكُمْ
'Tinggalkanlah pelaksanaan hukum had di antara kamu.' [8]

Agar tidak dibawa kepada pemerintah (pengadilan), maka ia mendapat malu dengan dilaksanakan hukum had, dan barangkali pelakunya bertaubat, lalu Allah SWT menerima taubatnya.

Dan Rasulullah SAW sangat berusaha menjaga kemuliaan muslim dan keselamatan jiwanya, sesungguhnya telah datang kepada beliau seorang laki-laki yang berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berhak mendapat hukum had, maka laksanakanlah kepadaku.' Anas bin Malik t berkata,"Dan beliau r tidak bertanya kepadanya tentang dosanya." Dan setelah shalat, laki-laki itu mengulangi ucapannya, maka Rasulullah SAW bersabda:

أَلَيْسَ قَدْ صَلَّيْتَ مَعَنَا
"Bukanlah engkau setelah melaksanakan shalat bersama kami?" Ia menjawab, "Benar." Beliau SAW bersabda:
فَإِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ ذَنْبَكَ
"Sesungguhnya Allah SWT telah mengampuni dosamu." [9]

Ibnu Hajar berkata, "Sesungguhnya Nabi SAW tidak meminta keterangan lebih jelas darinya, bisa jadi karena hal itu termasuk dalam kategori tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain) yang dilarang, boleh jadi karena lebih mengutamakan menutup aib dan beliau SAW melihat bahwa dalam melaksanakan had terhadapnya bisa menjadi penyesalan." [10]

Kesimpulan:
- Orang yang berbuat maksiat secara tertutup akan tetap tertutup dengan tutupan Allah I.
- Membuka aib adalah perbuatan tercela, sekalipun berbicara tentang dirinya sendiri.
- Tidak ada kontradiksi (pertentangan) di antara mengingkari perbuatan maksiat dan menutupinya.
- Merasa senang mendengar aib adalah pertanda adanya penyakit di dalam hati.
- Menututup aib adalah perbuatan yang dianjurkan, sekalipun terhadap pelaku dosa besar.

Wallahu A'lam.


----- Original Message -----
From: Evie Susanti
To: M_Subki ; beby ; Peni ; Martin Silalahi ; puput ; Eman Sula ; Yudhianto ; umarjaya ; Jaka ; Setio Witjaksono ; Sarman ; jhony ; Junaedi ; nirwati ; aulia ; Azhar
Sent: Monday, October 26, 2009 9:38 AM
Subject: " Fenomena FacebooK "



" Di Balik Fenomena FacebooK " (Rugi Kalau tidak dibaca)

Ketika perpecahan keluarga menjadi tontonan yang ditunggu dalam sebuah episode infotainment setiap hari.

Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan mata bahkan jutaan dalam berita-berita media massa.

Ketika seorang celebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasei yang ditunggu-tunggu ....’siapa calon bapak si jabang bayi?’

Ada khabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang celebrities yang belum resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan bersama pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok suaminya.

Wuiih......mungkin kita bisa berkata ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi. Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.

Wuiiih...... ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu, sadar atau tidak, ribuan orang sekarang sedang menikmati aktivitasnya apapun diketahui orang, dikomentarin orang bahkan mohon maaf ....’dilecehkan’ orang, dan herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan.

Fenomena itu bernama facebook, setiap saat para facebooker meng update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi kebanggaan di statusnya. Lihat saja beberapa status facebook :

Seorang wanita menuliskan “Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya......?”------kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan “mau ditemanin? Dijamin puas deh...”
Seorang wanita lainnya menuliskan “ Bangun tidur, badan sakit semua, biasa....habis malam jumat ya begini...:” kemudian komen2 nakal bermunculan.

Ada yang menulis “ bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi....”, ----kemudian komen2 pelecehan bermunculan Ada pula yang komen di wall temannya “ eeeh ini si anu ya ...., yang dulu dekat dengan si itu khan? Aduuh dicariin tuh sama si itu....” ----lupa klu si anu sudah punya suami dan anak-anak yang manis Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya “habis minum jamu nih...., ada yang mau menerima tantangan ?’----langsung berpuluh2 komen datang

Ada yang hanya menuliskan, “lagi bokek, kagak punya duit...”

Ada juga yang nulis “ mau tidur nih, panas banget...bakal tidur pake dalaman lagi nih”

Dan ribuan status-status yang numpang beken dan pengin ada komen-komen dari lainnya.

Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita.

Ada yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitifitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.

Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru sj di upload di albumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah raga memakai kaos dan celana pendek...... padahal sebagian besar yg didalam foto tersebut sudah berjilbab.

Ada seorang karyawati mengupload foto temannya yang sekarang sudah berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan Islami, foto saat dulu jahiliyah bersama teman2 prianya bergandengan dengan ceria....

Ada pula seorang pria meng upload foto seorang wanita mantan kekasihnya dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita telah berkeluarga dan hidup dengan tenang.

Rasanya hilang apa yang diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah...., yaitu Muhammad SAW, Rasulullah kepada umatnya. Seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah r.ha : “ Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?” maka Istri tercinta, sang humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab “ Rasul, kekasih hatiku, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini”. Rasul dengan senyum teduhnya berkata “baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini”. Tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah rasulullah.. ..

Ingatlah Abdurahman bin Auf r.a mengikuti Rasulullah berhijrah dari mekah ke madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya, maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukan saja saya pasar. Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana Rasulullah, bersabda, “Malu itu sebahagian dari iman”. (Bukhari dan Muslim).

Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita umat Islam, hegemoni ‘kesenangan semu’ dan dibungkus dengan ‘persahabatan fatamorgana’ ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga.


Dan Rasulullah SAW menegaskan dengan sindiran keras kepada kita

“Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (Bukhari).

Arogansi kesenangan semakin menjadi-jadi dengan tanpa merasa bersalah mengungkit kembali aib-aib masa lalu melalui foto-foto yang tidak bermartabat yang semestinya dibuang saja atau disimpan rapat.

Bagi mereka para wanita yang menemukan jati dirinya, dibukakan cahayanya oleh Allah sehingga saat di masa lalu jauh dari Allah kemudian ter inqilabiyah – tershibghoh, tercelup dan terwarnai cahaya ilahiyah, hatinya teriris melihat masa lalunya dibuka dengan penuh senyuman, oleh orang yang mengaku sebagai teman, sebagai sahabat.

Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu, mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.

Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan ‘kesenangan’, ‘gurauan’ membuat Iffah kita luntur tak berbekas.

***********************************************************
Mohon kiranya untuk men-tag ataupun men-sharing artikel ini dengan orang yang Anda kasihi demi kebaikan kita bersama. Jazakallah khair Sumber : FTJAI

Disampaikan kembali oleh Akhina Ustadz M. Yudhianto, Ketua DKM Al-Ikhlas, Sektor Rusa

Sunday, October 25, 2009

IFTHAR JAMA’AI DAN HALAL BIHALAL 1430 H







Taqobalallohu minna wa minkum, semoga Allah Azza wa Jala menerima dari kita semua puasa, qiyam romadhon, tilawatil-Qr’an serta amal kebaikan kita. Akhirnya bulan romadhon yang penuh barokah pun berlalu, bersyurkurlah hamba yang diberi taufiq oleh Allah Azza wa Jala untuk mengisinya dengan kebajikan, Semoga romadhon benar-benar menjadi latihan berharga untuk meningkatkan kualitas keimanan pada bulan-bulan berikutnya.
Masih ingat kah ikhwaniy fiddien pada hari Ahad, 30 Agustus 2009 di lapangan fasos kita berkumpul untuk iftar jama’I, bersilaturakhim dan mendengarkan tausiyah dari Ust. Sona’I Abdurokhman LC serta member santunan kepada anak-anak yatim piatu, subhanallah warga yang datang bersama-sama berkumpul dalam rangka fastabiqul khoirat banyak sekali, ikhwan bisa lihat dalam fotonya:

Kemudian pada hari ahad tanggal 11 Oktober 2009, diselenggarakan Halal Bi Halal gabungan kerjasama DKM Al-Muhajirin, RW 007, Ummahata Al-Uswah, BKMT Kota Hijau, semua dalam ranga mempertahankan dan menjaga taqwa setelah madrosah ramadhan.



Semoga tidak terlambat dan bahkan terlewat untuk selalu merindu ramadhan dengan amal ibadah…. Nasihat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda “Seandainya hamba-hamba mengetahui apa yang dikandung oleh romadhan itu waktunya sepanjang tahun” HR. Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Abid Dunya.

Sunday, August 30, 2009

Nabi Sholallahu alaihi Wasalam Mengingtkan Bulan Ramadhan


Puasa seperti yang dikatakan Ibnul Qoyim Rokhimakumullah, memberikan pengaruh mengagumkan dalam memelihara anggota badan dan kekuatan bathin, serta mengatur metabolisme, sehingga tubuh mendapatkan keseimbangan. Dia membersihkan zat-zat yang berpengaruh pada kesehatan. Puasa juga akan menjaga kesehatan hati dan angota tubuh, setelah dikuasai oleh jerat-jerat syahwat. Ia sangat berperan dalam embantu mendatangkan ketakwaan. Keagungan bulan ramadhan, membuat nabi sholallahu alaihi wasalam mengingatkan para Sahabat tentang kedatangannya. Anas bin Malik berkata: Bulan Ramadahan telah tiba, maka Rosulullah sholallahu alaihi wasalam bersabda: "Sesungguhnya bulan ini (Ramadhan) telah datang kepada kalian, Padanya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu buan, siapa saja yang terhalangi darinya sunguh ia telah terhalangi dari semua kebaikan, Dan tidak ada yang terhalangi (darinya), kecuali mahrum (yang memang terhalangi dari kebaikan). (HR. Ibnu Majah).
Nabi bersabda: "Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan intisab, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu" (HR. Bukhari, Muslim, Abu Da'wud & Ibnu Majah).

Sunday, July 5, 2009

Tasmi', Khotmil, Mabit, Tahajjud Jama'i dan Silaturahim






Hari Sabtu, 27 Juni 2009, mulai ba'da maghrib sampai dengan subuh hari Ahad, 28 Juni 2009 atas ridho Allah ta'ala, alhamdulillah rangkaian kegiatan tasmi', khotmil, tahajjud jama'ai dan Sarapan Pagi bersama (silaturahim) di Masjid Al-Muhajirin, sektor Kancil terselenggara dengan khidmat dan penuh barokah.

Siaran Di Radio Asbaabul Hidayah





Alamdulillah segala puji hanya untuk Allah ta'ala, pada 25 Juni 2009, 5 DKM, Al-Muhajirin Kancil, Al-Ikhlas Rusa, Tropikana, Al-Ishlah Rusa dan Al-Muhajirin Puma, dengan FORKAMMI bekerja sama dengan Radio Asbaabul Hidayah memulai melakukan dakwah melalui media radio. Semoga Allah memberikan iman dan cinta kita semua kepada dakwah.